Showing posts with label blurting me.... Show all posts
Showing posts with label blurting me.... Show all posts

Monday, July 18, 2016

Proses Perpanjangan SIM C Luar Kota di Satlantas Banjarmasin

SIM C ku habis masa berlakunya bertepatan dengan Idulfitri 2016 tanggal 6 Juli kemarin.
Domisiliku di Banjarmasin, SIM ku dikeluarkan di Malang.
Karena libur Idulfitri, pelayanan Satlantas baru buka Senin, 11 Juli 2016. Aku langsung cari informasi apakah SIM C yang habis masa berlakunya dan luar kota bisa diproses di Satlantas Banjarmasin. Puji Tuhan bisa, jadi gak perlu ke Malang untuk perpanjangan SIM.

Selasa, 12 Juli 2016 dimulailah pengalaman memperpanjang SIM C Luar Kota di Satlantas Banjarmasin.

Proses perpanjangan SIM C di Poltabes Banjarmasin

1. datang pagi2
2. Siapkan uang, fotokopi KTP yg masih berlaku beberapa lembar, fotokopi SIM beberapa lembar
3. ke poliklinik utk tes kesehatan dgn menyerahkan fotokopi KTP
4. Ngantri sambil berdiri nunggu dipanggil dari petugas di dalam ruangan. Tajamkan pendengaran, gak pakai pengeras suara
5. Diukur tinggi dan berat badan, bayar 30rb, dapat surat keterangan
6. Menuju ruang tunggu, menyerahkan surat kesehatan dan fotokopi KTP ke loket sambil nunggu dibuka ngantri
7.sebenernya dipanggil pake TOA tp kurang jelas suaranya
8. Krn perpanjangan maka fotokopi sim jg dilampirkan
9. Abis dipanggil, berkas kita diserahkan lg, trus ke Loket BRI utk bayar 75rb
10. Abis gitu berkas diserahkan ke loket 1 lg
11. Trus disuruh ngecek no sim di loket verifikasi foto, alasannya gak dikasitau, tp kayaknya krn ktp gw beda daerah sm SIM
12 trus berkas masukin loket 1 lg
13. Nunggu dipanggil, setelah sekitar 2 jam dipanggil, dgn nunjukin ktp dan sim asli dikasi map isinya berkas  n formulIr utk diisi
14. Abis diisi, map isi berkas tsb dikasi ke loket 2, dan dpt no antrian
15. Krn udah jam 11 lewat, step selanjutnya foto dlsb, tp loket udah tutup jd dikasi no antrian utk datang besok pagi


Day 2
Datang jam 8.13 AM
1. Bawa no yg kemarin dikasi, ngantri, tunggu dipanggil
2. Setelah 1,5 jam dipanggilah, padahal gw no. 8. No yg dipanggil tertera di layar depan loket
3. Masuk ruang identifikasi dan verifikasi foto
4. Ditanya data, trus pindah meja utk foto, dan 10 sidik jari
5. Selesai, dikasi berkas kita, dibawa ke ruang cetak & pengambilan sim, taro di kotak berkas
6. Nunggu lagi
7. Gak sampe 10 menit dipanggil, ttd di buku, sim jadi. Akhirnya!

Begitulah sekilas pengalaman mengurus sendiri perpanjangan SIM C Luar Kota di Satlantas Banjarmasin.

Sunday, September 07, 2014

hey...!

hey...!

i'm back..., still can't believe that this blog is still active because my last post is over a year ago, thank God that Google make it easy for us so that we only remember one password for all of Google product. I never check my blog, since I also have a blog in wordpress, but perhaps because I regularly check my email, even though I don't check my blog, I don't lose my blogger account.

been over a year in this city, many things happens and keep happening. I like this city, a city that is called "thousand rivers", crowded and traffic jam everywhere. I like the challenge. I like the opportunity. The food is okay. I gain weight here by the way, hahahaha...

something that I never imagine before, being able to live outside java island. been to East Nusa Tenggara, West Nusa Tenggara, and currently at South Kalimantan. Been to Central Kalimantan, and I'm looking forward to go to West Kalimantan. 

mostly we see things and response everything by our own standard, so we tend to see things negatively if we find it not suit to our own desire. time is running and all the opportunity, the obstacles, the sorrow and also the happy moment keep filling my memory, hoping to bring it all to eternity.

took so many photos as usual, breaking the habits and bike riding across the province, I let my adventure side lead the way. Yes, I like being here, and looking for another new situation, new challenge, new everything, and I trust God will grant me what I need in His time. He shall supply. Amen.

Sunday, February 28, 2010

suatu waktu di angkutan kota

Hari itu hari kamis, seperti biasa aku bersiap diri untuk pergi ke kantor. setiap hari aku menggunakan jasa angkutan kota untuk bisa sampai ke kantor. pagi itu memang seperti biasa, aku menunggu angkot yang tak berapa lama kemudian datang, dan aku segera menaikinya. Tidak ada yang istimewa, di dalam angkot isinya hanya 3 orang selain aku.

Tak berapa lama kemudian naiklah satu orang pria. perawakannya kurus, rambutnya masih basah, mungkin baru mandi. usianya mungkin tidak jauh beda denganku, masih cukup muda. dia membawa tas kecil. dan dia mengambil tempat duduk di samping kananku. setelah dia duduk, dia mengeluarkan bungkusan kecil yang aku segera tahu bahwa itu adalah sebungkus silet, biasanya dipakai untuk refill alat pencukur, yang dari stainless steel tipis itu lho... segera aku berpikir bahwa sembari menunggu angkot mengantarkannya ke tempat tujuan, dia akan mencukur jenggotnya yang memang tumbuh tipis di dagunya. Dengan cepat dia membuka pembungkus silet itu, terlihat juga bahwa silet itu masih baru.

Namun ternyata dugaanku salah. Dia tidak mencukur jenggotnya. Dia memakan silet itu. Ya, silet itu dimakannya, seperti seseorang yang sedang memakan cemilan. Pertama aku kaget, dan beberapa orang yang ada di dalam angkot itu juga kaget, namun mereka tidak mengeluarkan suara, dan tetap berlaku seperti tidak terjadi sesuatu.

Sedikit demi sedikit silet itu dimakannya. Dari cara memakannya, dia memang (mungkin) tidak bermaksud untuk pamer kepada penumpang angkot yang lain. Mungkin memang itu adalah kebiasaannya (setiap pagi?). Setelah pria ini naik, tentu ada penumpang angkot lain yang menaiki angkot, dan pria ini memang menyita perhatian mereka yang baru naik, namun setelah itu mereka menganggapnya biasa. Ketika dimakan, silet yang beradu dengan gigi menimbulkan bunyi "renyah", pria itu memakannya dengan pelan-pelan, dan sepertinya dia sudah terbiasa dengan makanannya itu serta pandangan orang-orang yang terheran-heran.

aku yang duduk di sebelah kirinya memang memiliki kesempatan untuk mengamati tenggorokannya saat dia menelan silet tersebut, namun aku memilih tidak mengamatinya, aku memilih mengalihkan pandanganku ke luar jendela, ke kesibukan kota di pagi hari.

Sudah setengah bagian silet yang termakan, dia sudah sampai tempat tujuannya, dia turun angkot. angkot menjauh, dan kulihat dia di kejauhan masih dengan gerakan memakan siletnya.

Ya, memang makanan pria tersebut bukanlah makanan yang biasa dimakan manusia. Namun ternyata itu nyata, ada manusia yang bisa memakan benda-benda seperti itu. Setelah pria itu turun, aku menganggapnya sebagai hiburan di pagi hari, hiburan yang unik dan menggelitik untuk berpikir bahwa ada kemungkinan, ketika bahan makanan di bumi ini habis, manusia bisa memakan baja dalam bentuk silet. ^_^

Saturday, September 12, 2009

yang instan

saat ini manusia hidup di jaman yang serba cepat, serba instan, tak ada waktu untuk menunggu. manusia dimanjakan dengan berbagai teknologi yang mempermudah segala urusan kehidupan, mulai dari mengambil uang, makan, mencuci, hingga berbelanja. hal-hal yang dahulu mungkin tidak terpikirkan sekarang segalanya terwujud dan akan terus berkembang. apa yang kita sekarang pikirkan tidak mungkin untuk hari ini, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. apakah kita juga akan menikmati hasil dari yang kita tanam sekarang, itu juga belum tentu. 

dulu mengambil uang tabungan harus mengantri di kantor bank tempat kita menabung, pakai acara mengantri. saat ini mengambil uang bisa di anjungan tunai mandiri, jika di satu atm mengantri kita bisa ke tempat lain yang terdekat atau menggunakan atm dari bank lain yang memiliki fasilitas sama dengan bank kita.

dulu mencuci terasa begitu lama, berat, dan pekerjaan yang rutin dilakukan. selain mesin cuci, hal termudah lainnya adalah dengan memasukkan pakaian kotor kita ke laundry, 2 hari kemudian akan kita ambil dalam keadaan rapi, bersih, dan wangi. 

dulu mungkin tak terpikir jika kita bisa makan tanpa harus repot memasak. tinggal telpon nomor restoran/warung yang dimaksud, memesan menu yang kita inginkan, voila, menu tersebut akan diantar sampai di depan rumah kita. 

dulu berkirim surat kepada handai taulan, relasi, sahabat dan lain-lain memerlukan waktu yang lama, saat ini kemudahan bisa kita jangkau sepenggalan tangan. ambil saja gadget kita pencet sana pencet sini, kita sudah terhubung dengan relasi bisnis, teman, saudara, pacar, keluarga, dll.

berkunjung ke kota lain memang memerlukan waktu, transportasi darat sudah bisa tergantikan dengan transportasi udara yang lebih cepat. penemuan-penemuan menakjubkan saat ini memungkinkan tenaga manusia diganti dengan tenaga robot. penemuan-penemuan menakjubkan saat ini memungkinkan yang telah hilang kita peroleh kembali (misal dalam bentuk kloning, terlepas dari masalah etika).

cepat, sangat cepat dan kalau bisa lebih cepat lagi. kita berpacu dengan waktu, berpacu dengan masa, berpacu dengan sesama kita, berpacu dengan umur, berpacu dengan hidup itu sendiri.

pencapaian-pencapaian yang tiada habisnya membuat kita merasa terus dan terus harus diisi, haus akan pengakuan, haus akan apresiasi, haus akan perhatian, haus akan penghargaan.

kagumkah kita, manusia, akan semua ini? 

Saturday, August 01, 2009

The decision

When people can not except your decision, you make them very disappointed at you. What can you do? Each of us look from different sides of a subject and trying to make an understanding. Again I am in mu life's intersection. Confuse, worry, anxious, why am I taking this step? Will I regret it someday? I don't know. For sure, you don't lick back your spit, right?
Then, here goes another story. When it comes in a form of not just pure business, then it's hard to make pure decision also. It's hard to make reasons understandable. I take my consequences. I do take my consequences. It's a sacrifice I have to make. There are a lot of sacrifices here. It becoming a drama to me. A drama within it I should play.
If this is my path Lord, please show me Thy kindness. Seem that none of them could except my reasons for doing this. I have no idea if this is the right choice and chance that I take, but I already make it up anyway.
Quiet, be still my soul..Noisy..noisy inside...shall believe that everything is happening for a reason. That God has His own time, and that time is perfect.

Saturday, June 27, 2009

Suatu ketika

Suatu ketika aku melihat orang-orang yang menyiram jalanan. Setelah menyiram tanamannya biasanya mereka melanjutkan dengan menyiram jalan depan rumah mereka agar debu jalanan tidak beterbangan yang dapat membuat rumah kotor. DIlakukan setiap hari. Pagi dan sore hari. Sehari dua kali. Setiap rumah melakukannya.

Suatu ketika aku melihat orang-orang yang tidak menghabiskan makanan yang sedang dimakannya. Terlalu sering aku melihat orang-orang berbuat demikian, towards any kind of food. Sebagian besar orang melakukannya.

Suatu ketika dari mobil yang melintas aku melihat penumpang di dalamnya membuang sampah ke luar mobil. Sembarangan, tidak pada tempatnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh mereka yang menumpang angkutan kota. Hal yang sama juga dilakukan oleh pengendara motor, bahkan pejalan kaki.

Suatu ketika aku melihat mobil yang melintas dan penumpang di dalamnya meludah ke jalan. Hal yang sama juga dilakukan oleh mereka yang menumpang angkutan kota, mengendarai sepeda motor, juga pejalan kaki.

Suatu ketika angkutan kota yang kunaiki dipenuhi asap. Seringkali aku mengalaminya. Banyak penumpang angkutan kota yang merokok di dalam angkutan kota.

Suatu ketika aku melihat orang yang menyeberang di bawah jembatan penyeberangan atau tidak jauh dari posisi dimana zebra cross berada. Banyak orang menyeberang jalan tidak melalui zebra cross. Kadang aku pun melakukannya.

Suatu ketika aku melihat orang-orang menyeterika baju di malam hari, ketika pemerintah menggalakkan program matikan minimal dua bola lampu pada pukul 17-22.

Suatu ketika di hari yang terang, aku melihat lampu jalan yang masih menyala, lampu teras rumah yang masih menyala, lampu di suatu gedung yang masih menyala, dan banyak lampu yang tidak penting untuk dinyalakan di siang hari namun masih tetap menyala.

Sekelumit dari apa yang aku sebut sebagai sikap. Sikap yang timbul dari pemikiran yang pendek, acuh tak acuh, tidak peduli, tidak berperasaan, tidak sopan, tidak beradab, dari kelompok-kelompok makhluk hidup yang tetap bersikeras bahwa mereka layak disebut manusia. Spesies yang diciptakan Tuhan lebih dari ciptaan yang lain. Yang diberi tugas mengelola bumi ini. Dan spesies yang samalah, yang bahkan rentang hidupnya tidak lebih lama dari seekor penyu, yang membuat rumahnya sendiri hancur. Hancur lebur berantakan tak bersisa. 

Kenapa kita tidak belajar dari spesies lain? Kenapa kita tidak belajar dari hewan, tumbuhan, dan alam itu sendiri? Layakkah ktia disebut manusia? Karena yang aku tahu saat ini, hari ini, manusia tidak belajar dari peristiwa, tidak menjadikan pengalaman sebagai guru. Hidupku yang pendek ini, dan paradoks yang kulihat dalam hidupku ini.

-insatiable greed of human being destroying their own species- >> own quote

Saturday, June 13, 2009

m e r a s a i m u ...

hanya merasaimu…

menjadikanku penuh, hanya dengan memandang…

bentuk merasaiku untukmu…memandang…

tak bersentuhan…hanya memandang…

mata yang saling berpandangan, bicara banyak…

ga lebih dan ga kurang…

merasaimu dengan cara seperti ini…

berbahagialah mereka yang dapat merasai namun tidak harus memiliki….

merasaimu, meluluhkan hati dan jiwaku…

be still

be still, for what is to come and what will come yet. this morning was walking as usual to the office and humming some songs. never had the thought will be seeing you. well all of the sudden you came out of nowhere and there you are, riding on a bicycle in front of me.
we dont know each other and we wont shake hands either. no smile that comes out. be the feeling of seeing you there is just a great way for me to start the day.
well, no more words, just grateful seeing you today.

i might cry!!

I might cry 

despite all the circumstances

despite all the situations

dont you know that im also a human being

i wont be angry

wont be dissappointed either

wont be anxious

here i am

at point of no return, aware...

aware of the different dimensions that we have

aware of the borders that go through our ways

im strong on the surface

not all the way through...

so here i am saying

saying it out loud to you

that i might cry

yes... i might cry

if i ever had the chance to meet you again...

...

Miserikondria!! Kyrieeleison!!
Tunjukkanlah belas kasihan!! Tuhan kasihanilah!!
Hypocrisy, i’m full of hypocrisy
from the day of my birth until today
Miserikondria!! Kyrieeleison!!
Because I see, that religiousity is made to justify human deeds
it’s not because you ask for his blessings, it’s because you nedd him to justify all things that you do
Hypocrisy, what a hypocrite am I!!!

halo tampan ^_^

marahkah engkau padaku

sesaat tadi kulihat senyum di wajahmu

sesaat tadi kulihat binar di matamu

lalu kau datang lagi melewatiku seperti tadi

tak ada senyum di wajahmu

tak ada binar di matamu

aku tak menuntutmu mengerti apa yang sedang kulakukan

untuk itu, janganlah menuntut apa-apa dariku

namun, sebelum semuanya ini berlalu,

ingin sekali aku menghampirimu dan bertanya,

“Siapakah namamu?”

dislokasi!!!

dislokasi!! 
tadi di warnet gw laper
trus gw liat daftar menu dan pesen ke mbaknya yang jaga warnet
kalo pesen makanan kan musti langsung bayar,
so, gw pesen mi instan sama air mineral
mbaknya nanya ke gw “pesen makannya apa mbak?”
“mi” jawab gw.
“ooo, noodle” mbaknya ngomong gitu..
secara emang di daftar menu mereka nulis menunya dalam bahasa inggris
tapi aneh aja ya, gw ngerasa idup di indonesia yang punya bahasa nasionalnya sendiri
tapi orang2 lebih milih pake bahasa asing (baca: bahasa inggris) dalam kehidupan sehari2
lo bisa liat itu mulai dari menu makanan di warnet, spanduk, reklame, baliho, nama toko,
nama hotel dan nama2 lainnya, rincian jasa yang ditawarkan pengiklan, di rumah makan,
di warung, di merk, di mana2 tempat, lo sebut aja…
ga aneh dong kalo gw bilang gw dislokasi? belajar bahasa asing itu penting,
ga haram juga kalo bahasa inggris lebih banyak dipakai di tempat2 publik,
karena emang -mungkin- keliatan lebih keren dan internasional…yeah…
it’s not about the “noodle” thing, it’s merely about nationalism, how we think and act about it
secara gw masih ada di indonesia, maka buat gw aneh banget kalo tidak menggunakan bahasa nasional
secara -sebenernya- istilah2, kalimat2, kata2, dsb itu ada terjemahannya dalam bahasa indonesia
gw emang bukan seorang munsyi, ahli bahasa, gw cuma warga negara biasa, yang ga pengen
prediksi orang terhadap bahasa nasionalnya (bahwa bahasa indonesia adalah salah satu
dari bahasa2 di dunia yang bakal punah) terjadi.
dislokasi nih!!!

Kamu yang Disitu

kamu yang di situ, mengapa diam saja

memandang langit, memandang bintang, memandang bulan

kamu yang di situ, mengapa diam saja

tak hiraukan kendaraan yang berseliweran

kamu yang di situ, mengapa diam saja

lalu lalang orang memperhatikanmu yang diam

kamu yang di situ, mengapa diam saja

kemanakah tujuanmu

lalu aku tahu, tak ada tujuanmu

berumahkan bumi, beratapkan langit, berkasurkan tanah

lalu lalang orang tetap sibuk

namun, hai kamu yang di situ,

kamu diam saja, karena di situlah istanamu